Postingan

Hukum Oral Seks

Sesungguhnya permasalahan ini –oral seks- merupakan permasalahan yang sangat menimbulkan rasa malu untuk dibicarakan. Akan tetapi mengingat terlalu banyak yang bertanya tentang permasalahan ini maka perlu penjelasan yang lebih dalam tentang hukum oral seks. Sebagian ulama membolehkan oral seks dan sebagian ulama yang lain mengharamkannya. Dalil para ulama yang membolehkan : Pertama : Keumuman firman Allah نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ "Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki" (QS Al-Baqoroh : 223) Ayat ini menunjukkan seorang suami berhak melakukan segala cara jimak dalam menikmati istrinya kecuali ada dalil yang melarang seperti menjimak wanita yang haid dan nifas atau menjimak wanita di duburnya. Kedua : Keumuman sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wanita haid اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ ...

Sungguh lucu dan MEMALUKAN, MUSLIM seperti ini

Gambar
Ini contoh sederhana yg mungkin sadar/tanpa disadari sering kita lakukan sehari-hari [termasuk TS jg ] Terkadang kita akan dengan senang hati, tanpa terasa menghabiskan&meluangkan waktu kita u/: 5-8 jam (+/- 33% waktu kita dalam sehari) untuk tidur!! 2-4 jam (+/- 17% waktu kita dalam sehari) untuk maen game-internet, nonton TV, membaca koran&majalah!! 1-2 jam (+/- 8% waktu kita dalam sehari) untuk telp2an, SMSan ma pacar/gebetan!! Dan apa yg terjadi dengan Sholat Wajib 5 waktu kita yg hanya +/- 50 Menit (hanya 4% waktu kita dlm sehari!!) atau waktu kita u/ membaca Al-Qur’an yg hanya +/- 15 Menit (hanya 1% waktu kita dlm sehari!!), tetapi mengapa kita berat sekali untuk menunaikannya!? sehingga kita tidak pernah bisa menjalankannya dgn ikhlas, rutin dan senang hati!? Akhirnya kita menjadi suka melalaikan Sholat (bolong-bolong) dan tidak pernah sekalipun tergerak hati u/membaca Al-Qur’an. Sungguh LUCU dan MEMALUKAN bukan!? Termasuk kamu!? Pada saat ada ‘...

Untuk Saudariku..dalam Masa Penantian

wanita muslimah…laksana bunga….yang menawan… wanita muslimah yang sholehah….bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya…. Begitu indah… begitu berkilau... begitu menentramkan... teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut… Namun tentunya....tak sembarang orang berhak meraihnya….menghirup sarinya…. hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah...yang dapat memetiknya... yang dapat meraih pesonanya... dengan harga mahal yang teramat suci… sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan… karena itu…sebelum saatmu tiba….sebelum orang terpilih itu datang dan menggandengmu dalam istananya… janganlah engkau biarkan dirimu layu sebelum masanya… jangan kau biarkan serigala liar menjadikanmu bahan permainan dalam keisengannya… jangan kau biarkan kumbang berebutan menghisap madumu… jangan kau biarkan mereka mengintipmu diam-diam…dan menikmati pesonamu dalam kesendiriannya…. Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta... Ya…atas nama...

Tuntunan Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta'ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma'arif berkata, "Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga." Keutamaan Shalat Tarawih Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no....

Klasifikasi Manusia di bulan Ramadhan

PERTAMA kelompok yang menunggu kedatangan bulan ini dengan penuh kesabaran. Ia bertambah gembira dengan kedatangannya,hingga ia pun menyingsingkan lengan dan bersungguh-sungguh mengerjakan segala macam bentuk ibadah seperti; puasa, shalat, sedekah, dan lain sebagainya. Ini merupakan kelompok yang terbaik. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “’Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang paling berderma. Namun, beliau lebih berderma lagi pada bulan Ramadhan, ketika beliau selalu ditemui Jibril.Setiap malam pada bulan Ramadhan, Jibril menemui beliau hingga akhir bulan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam membacakan Al-Quran kepadanya. Bila beliau bertemu Jibril,beliau lebih berderma daripada angin yang bertiup.” 1 KEDUA kelompok yang sejak bulan Ramadhan datang sampai berlalu, keadaan mereka tetap saja seperti sebelum Ramadhan. Mereka tidak terpengaruh oleh bulan puasa itu serta tidak bertambah senang atau bersegera dalam hal kebaikan. Kelompok ini adalah orang-orang yang...

Amalan di bulan RAJAB

At Tauhid edisi V/27 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian. Rajab Di Antara Bulan Haram Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَ...

Indahnya CINTA karena ALLAH

Gambar
Penulis: Ummul Hasan Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc. “Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita? Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah). (“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.” Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i. “…hingga dia ...